RSS

Ketika Anak Berkata Kasar

Selamat pagi sobat eMKa Land yang berbahagia kita jumpa kembali di "Teras Melly Kiong."

Gara-gara habis libur, hari ini pasti banyak yang mengira ini hari Senin. Begitu juga saya.
Dari pengamatan saya beberapa hari ini, gaya bicara dari anak-anak memang terjadi pergeseran nilai sopan santunnya, menjadi lebih kasar namun sepertinya mereka tidak tahu bahwa apa yang mereka lakukan itu salah. Dan setelah saya ajak bicara apakah mereka tahu arti kata yang mereka keluarkan? Dan dari mana mereka dapat kata-kata itu, jawabnya dari teman-temannya dan tahu artinya. 
Apakah pergeseran nilai sopan santun dalam bertutur kata anak-anak masa kini dianggap hal yang biasa??? Pertanyaannya di mana orangtuanya berperan? Apakah orangtua tahu apa yang terjadi pada anak-anaknya? Atau orangtua tahu dan menganggap lingkungan yang telah menjadikan anak-anaknya seperti itu? Jika kita semua hanya menunggu kondisi membaik, maka itu akan jadi penantian yang selamanya akan sia-sia. 
Jika kita tahu itu adalah lingkungan anak-anak, bagaimana kita coba perbaiki dari anak kita masing-masing, coba ambil kata "bodoh" menurut anak kita bodoh kata yang baik tidak artinya? Apakah anak kita mau dibilang bodoh? Jika tidak mengajari dia untuk tidak menggunakannya.  Ajarilah anak, mana yang baik dan mana yang tidak, mana yang boleh dan mana yang tidak sejak kecil. Jangan buang energi dengan membenarkan diri dan menyalahkan lingkungan.
Mindful Parenting kita belajar menjadi orangtua yang tidak menghakimi diri sendiri dan anak, melainkan selalu eling dalam memperbaiki diri, berhentilah menyalahkan yang di luar.
Baru saja baca Kompas, betapa rentannya psikologis manusia sekarang terhadap kondisi hidup yang semakin keras.
Mari bantu anak-anak kita membangun saringan yang berkualitas dalam dirinya sendiri,
Sehingga mereka mampu menjaga dirinya.
Di eMKa Land kita selalu berusaha menjadi orangtua yang lebih sensitif untuk memperbaiki kualitas diri.

Semangat Pagi 
Smile
Melly Kiong
@mellykiong

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Uang Jajan Anak Penentu Masa Depannya


Selamat pagi sobat eMKa Land yang berbahagia, mulai hari ini kita sebut BC pagi dengan "Teras Melly Kiong" sambil membayangkan kita ngeteh dan berbincang. Bersama ya? (Ssssttt ide dari Excelent TV lho).
Ada yang agak sedikit mengagetkan ketika bandar narkoba yang tertangkap di Thailand dengan tegas mengatakan Indonesia adalah pasar yang sangat menggiurkan dan salah satu alasannya anak muda Indonesia punya uang jajan yang cukup besar untuk belanja.
Sangat disayangkan bukan? Alasan orangtua memberikan uang jajan supaya anak tidak kelaparan di sekolah. Namun kenyataannya banyak anak yang malah mengalihkan uang jajan untuk membelikan sesuatu yang lain seperti voucher game, dan lain-lain.
Selain itu banyak anak muda yang akhirnya memilih nganggur karena hasil kerja tidak sesuai.
Sepertinya sobat orangtua boleh mulai menghitung kembali uang jajan anak kita sehari berapa x 20 x berapa tahun lagi anak kita akan sekolah + kenaikannya.
Terus hitung gaji yang lulusan sekarang + kenaikan rata-rata pertahun sampai di tahun anak kita bekerja, coba bandingkan.  Jika lebih kecil kita masih aman, tetapi jika lebih besar maka perlu waspada, dan coba pikir sendiri apakah anak-anak mau kerja capek-capek penghasilan dia tidak lebih besar daripada dia tidak bekerja? 
Dan bayangkan beban sosial yang akan terjadi di keluarga dan masyarakat jika anak tidak bekerja. Belum lagi beban psikologisnya.
Siapkah kita menghadapi kondisi demikian sebagai akibat dari ketidaksadaran kita akan efek yang akan datang? Mari mulai bijaksana dalam memberikan apa pun kepada anak kita, karena apa pun yang kita berikan sekarang akan menentukan bagaimana anak kita di masa yang akan datang.
Pilihan ada ditangan kita mau ajari anak kita memancing atau memberi ikan kepadanya.
Mindful Parenting mengingatkan kita menjadi orangtua yang tidak menghakimi diri sendiri maupun anak atas kondisi apa pun, melainkan mempersiapkan diri menerima apa pun yang telah kita lakukan.
Selamat Nyepi buat saudara yang beragama Hindu.
Smile
Melly Kiong

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Orangtua yang Terperangkap Sendiri


Selamat pagi sobat eMKa Land yang berbahagia, Senin lagi ya, semangat yang harus dinyalakan untuk melanjutkan ke hari-hari berikutnya. Perjalanan pulang dari sharing bersama orangtua kemarin membuat saya berpikir tentang anak yang akhirnya membandingkan orangtua dikarenakan orangtua tidak bisa memenuhi keiinginannya. Apa rasanya ya menurut sobat? Pasti tidak enak bukan? Bahkan ada yang sangat marah. Tetapi sadarkah orangtua, berapa banyak orangtua yang telah membanding-bandingkan anaknya tanpa memikirkan bagaimana perasaan anaknya? 
Namun pagi ini saya coba membahas bagaimana orangtua sebaiknya dalam bersikap sehingga tidak dibanding-bandingkan oleh anak.



  1. Bangunlah komunikasi dua arah yang baik dalam segala situasi, jika kemampuan kita tidak sanggup memenuhi permintaan anak jujurlah padanya dan tegas serta bijaksana. Jangan sampai memenuhi permintaan anak dikarenakan kasihan.
  2. Punya prinsip yang jelas, jika tidak katakan tidak dan apa alasannya yang jelas.
  3. Semua yang kita berikan kepada anak pikirkan resiko jauh ke depan, jika kasih apa risikonya dan jika tidak apa risikonya. 
  4. Orangtua perlu selalu eling memperbaiki diri dan sensitif dengan standar kualitas yang diinginkan anak dengan bijaksana, niscaya kita akan jadi orangtua yang membanggakan mereka.
Bagaimana sih standar yang diinginkan, yuk hari ini jadikan PR kita bersama untuk mendengarkan suara mereka, jika mereka bangga maka kita jadikan itu sebagai semangat untuk terus introspeksi diri.  Atau jangan-jangan nilainya negatif semua? Tenang.... eMKa Land adalah solusi buat kita semua belajar memperbaiki diri dan lupakan yang sebelumnya walaupun sejam yang lalu.
Jika orangtua mau merendahkan hati untuk belajar menjadi orangtua yang baik, maka akan lahir anak-anak masa depan yang lebih bahagia.
Mindful Parenting??? Generasi anak Indonesia yang berkualitas.


Semangat pagi
Smile
Melly Kiong @mellykiong
NB: Bagi yang baru bergabung kunjungilah blog emkaland, supaya bisa belajar dari awal.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ada Ketakutan Anak yang Perlu Dipertahankan


Selamat pagi soba eMKa Land yang berbahagia, semangat menemukan suka cita di hari Minggu.

Setiap orangtua seharusnya setiap hari mendapatkan pelajaran dari anak-anaknya, baik yang perlu dipertahankan maupun yang tidak perlu.
Pagi ini topiknya memang sedikit aneh bagi kebanyakan orangtua, karena kebanyakan orangtua selalu bertanya bagaimana membuang rasa takut anak. Tetapi kasus ini berbeda. 
Kemarin sore saya mendapati Matthew pulang dengan wajah terlihat lelah karena habis latihan MD untuk ujian nanti. Tetapi dia tergesa-gesa menuju meja tamu dan sepertinya mencari sesuatu tetapi tidak menemukan, saya perhatikan mbak-mbaknya sibuk juga mencari dan saya tanya, “Apa yang hilang?” Katanya tulisan-tulisan dan bagi saya itu bisa diminta kembali ke teman, dan lain-lain.
Seluruh tempat sampah juga diubek-ubek namun tidak diketemukan. Dan Matthew duduk tersungkur di lantai sambil menangis.
Situasi cukup serius rupanya dan saya mendekatinya, saya memberikan dia sesi menjelaskan dari awal sampai akhir. Ternyata itu adalah kode voucher games temannya yang dititipkan. Dan nilainya menurut Matthew sangat besar, Rp 50.000 setara dengan 3x uang jajannya. Dia merasa harus bertanggung  jawab menggantikannya tetapi dia ukur kekuatannya yang tidak mungkin. 
Mindful Parenting yang selalu mengajarkan bagaimana kita berempati dengan anak, bagaimana kalau kita berada diposisi anak kita. Spontan saya katakan bahwa dia sangat hebat, punya rasa tanggung  jawab dan tidak menyepelekan bahwa semua bisa diselesaikan oleh orangtuanya dan dia mengukur kekuatan diri. Dan saya pakai kesempatan itu untuk meminta dia tidak mengulangi hal yang sama di kemudian hari. Dan saya dengan tenang menyatakan akan membantu dia menggantikannya. Ternyata ketakutan dia adalah bukti nyata sebuah tanggung  jawab yang sudah bertumbuh.
Sobat, eMKa Land bukanlah tempat menunjukkan kehebatan siapa pun melainkan tempat kita mendapatkan edukasi yang membentuk diri kita menjadi orangtua yang lebih bahagia dan berkualitas.
Selamat beribadah...


Smile
Melly Kiong

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Rayakanlah Kemenangan Si Kecil



Selamat pagi sobat eMKa Land yang berbahagia, saya paling bahagia jika ada yang bisa saya tulis dan saya bagikan supaya kita belajar, berbagi dan maju bersama.
http://hndipb10.blogspot.com
Kemarin saya menemukan mading Matthew dalam bahasa Mandarin yang ditugaskan oleh sekolah. Karena saya tidak bisa baca, saya melewatinya dengan biasa saja bahwa saya melihatnya sedikit berantakan. Tidak lama kemudian neneknya protes, seakan-akan Matthew hanya anggap keluarga inti adalah papa mama dan kakak adik, walaupun itu benar, tapi karena neneknya protes Matthew hanya minta maaf karena memang dia hanya catat yang ada di buku. 
Kemudian dia bertanya bagaimana hasilnya? Sebelum saya jawab jujur, dia sudah menjelaskan bahwa yang kelihatan kotor itu sebenarnya adalah pentelnya yang tumpah, kena sikunya akhirnya dia oleskan dan menurut dia jadi artistik seraya bertanya, kreatif 'kan aku Ma???
Ya... ya... harus saya akui kreatifnya, dan berani mengalihkan kekurangannya dengan alasan yang cukup masuk akal. Yes, saya bersyukur ada hasil didikan kreatif yang mulai terlihat. Apresiasi kecil yang kita lakukan akan membangun rasa percaya diri anak di kemudian hari.
So orangtua, yuk kita selalu beri ruang anak kita untuk berkarya dan bersuara.
Mindful Parenting selalu mengedepankan rasa nyaman bagi anak untuk hidup di masa kini, dan menikmati kebahagiaannya.
Yuk kurangi ocehan pada mereka, pusatkan pada keberhasilan kecil mereka dan syukurilah dengan pujian.
eMKa Land, solusi orangtua cerdas Indonesia


Smile
Melly Kiong

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jangan Menerima yang Bukan Hak Kita


Selamat pagi sobat eMKa Land yang berbahagia, semangat berbagi yang tak boleh reda telah terbangun di sini. Saya bahagia sekali mendapati banyaknya sobat eMKa Land yang terus berbagi cerita dengan sahabat dan keluarganya mengenai hal baik yang didapati di eMKa Land. Serta perubahan-perubahan positif yang terus terjadi dalam diri sobat eMKa Land. Terima kasih dan selamat menikmati perubahan itu.

Dua hari ini saya mendapat pujian atas posting-an tulisan yang diterima sobat eMKa Land dari berbagai daerah atas sebuah posting-an yang bukan karya saya, jujur itu menjadi sebuah ketidaknyamanan karena saya merasa sangat tidak pantas karena itu bukan hak saya, bagi siapa pun yang punya karya, saya pribadi mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Dan untuk ke depannya sebagai pembedaan saja apakah itu tulisan saya atau bukan, saya akan pastikan bahwa semua tulisan saya pasti ada di www.emkaland.blogspot.com, dan tidak akan ada predikat apa pun diakhir tulisan saya sebagai motivator dan sebagainya.

Saya mohon support dari keluarga besar eMKa Land untuk selalu bantu memagari saya dalam sebuah kesederhanaan dan sadar akan hak yang pantas dan selalu menghargai karya orang lain. Semoga ini juga akan jadi kebiasaan sobat semua ketika akan mem-BC kembali tulisan orang lain selalu cantumkan nama pengirim yang kita terima.

Mari belajar mengubah diri kita sendiri, sehingga kita mampu mewariskan yang baik kepada anak-anak kita kelak, Mindful Parenting selalu mengutamakan bagaimana berempati atas kondisi orang lain secara berkesinambungan, sehingga akan melahirkan kebijaksanaan dalam diri sendiri. 

Sekali lagi terima kasih atas niat baik semua sobat, saya benar-benar bangga dan bahagia atas komunitas yang semakin mengedepankan kualitas.


Salam
Smile
Melly Kiong



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kurikulum Orangtua Buat Anak, Tulisan Bpk. Rhenald Kasali


Selamat pagi sobat eMKa Land yang bahagia, semangat Kamis yang manis.
gambar sumber : http://indonesia.ucanews.com

Saya yakin banyak sekali orangtua yang khawatir dengan issue perubahan kurikulum 2013 termasuk seorang ibu yang menulisnya di jejaring sosial. 

Menurut Bpk. Rhenald Kasali dalam opini Kompas Selasa lalu kurikulum 2013 adalah kurikulum yang belum tentu berhasil (kalau tidak ada kerjasama) apalagi di tahun-tahun awal. Beliau mengingatkan bahwa kita hidup dalam peradaban "continous improvement" dengan mengibaratkan membangun sebuah gedung tinggi yang tidak akan pernah jadi jika galian fondasinya berantakan. Dan sangat pantas kita sebagai orangtua gelisah, karena anak-anak kita akan memasuki pintu awal kekacauan dari sebuah perubahan yang belum tentu berhasil. 

Menurut Bpk. Renald Kasali, ibu tadi gelisah karena berasumsi bahwa masa depan anaknya 100% d tangan sekolah, padahal ibu itu lupa bahwa sekolah hanya mengisi 30% sekalipun anak itu dapat 10 disekolah, sedangkan dari pendidikan orangtua dan lingkungan nol. Maka anak itu hanya dapat nilai setara 3,3. 

Berbeda dengan anak tetangga yang nilai sekolah biasa-biasa saja (6), tetapi orangtuanya aktif mengajak jualan dan dibina langsung (nilai 8), terus gemblengan lingkungan (9), maka anak itu nilai rata-ratanya = 7,67. Anak ini akan jadi sarjana hebat dan ilmuwan gigih yang sukses, sedangkan anak yang "genius" tadi hanya bisa memajang ijazah dan jadi "penumpang" dalam kehidupan. Jadi menurut beliau kurikulum 2013 hanya sepertiga dari kurikulum kehidupan. 

Saya pribadi sangat setuju dengan ulasan Bpk. Rhenald bahwa orangtua punya peranan yang sama besarnya, tetapi apakah orangtua memerankan diri sebagai pendidik bagi anak-anak? eMKa Land dengan Mindful Parenting-nya secara nyata mengajak kita semua yang jadi orangtua untuk sadar ambil bagian buat anak-anak kita. Kesadaran yang nyata saya tuliskan dalam buku bagaimana menstimulasi dini anak untuk mempunyai mental-mental yang jadi kebutuhan ketika mereka ada di masyarakat kelak.

Sejak Confusius, bangsa-bangsa Asia percaya bahwa keluarga adalah alat pendidikan yang penting. Ayo perkuat pendidikan keluarga melalui eMKa Land, dan mari kita bekerjasama dengan sekolah demi anak-anak kita.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS